Dirut PT KTS Pastikan Sumber Air Desa Bobo Aman dari Aktivitas Tambang
Sandes Tambunan, Direktur Utama PT KTS, menyampaikan komitmen menjaga sumber air Desa Bobo dalam pertemuan terbuka, Kamis (14/8/2025). (Foto: Dok. Istimewa)
Halsel – HaluanMalut – Pertemuan terbuka antara PT Karya Tambang Sentosa (KTS) dan masyarakat Desa Bobo, Kecamatan Obi, Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Provinsi Maluku Utara (Malut), Kamis (14/8/2025), menjadi momen penting yang menumbuhkan kepercayaan. Ratusan warga hadir dengan antusias menyambut langsung kehadiran Direktur Utama (Dirut) PT KTS, Sandes Tambunan, yang datang bukan sekadar memberi sambutan, tetapi juga membawa komitmen.
Di hadapan warga, Sandes menegaskan bahwa keamanan sumber air desa adalah prioritas perusahaan.
“Air adalah sumber kehidupan. Kami pastikan aktivitas pertambangan tidak akan merusak mata air sungai. Kalau terbukti, saya sendiri siap memakai rompi oranye,” tegas Sandes.
Sandes menjelaskan, KTS melalui perusahaan grupnya telah berpengalaman menerapkan praktik tambang ramah lingkungan di beberapa lokasi, termasuk Morowali. Melalui rekayasa lingkungan, aliran air dari kawasan tambang dialirkan ke kolam sedimen untuk diproses sebelum dilepas kembali ke alam.
“Itu standar kami. Bukan sekadar janji, tapi sudah kami lakukan,” katanya.
Ia menambahkan, lokasi IUP KTS di Obi Selatan berjarak sekitar tujuh kilometer dari Desa Bobo. Hasil pemantauan drone dan citra satelit menunjukkan tidak ada anak sungai yang mengarah langsung ke sumber air desa. “Kami memastikan sungai desa tetap terlindungi,” tegasnya.
Tokoh masyarakat Bobo, Andrianus Tuandali, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Dirut KTS.
“Sejarah mencatat, hanya dua direktur utama yang pernah mau hadir langsung di hadapan warga Obi, yaitu Pak Hartono dan kini Pak Sandes. Bahkan sebelum diminta, PT KTS sudah menyiapkan program CSR jangka pendek, menengah, hingga panjang. Ini bukti keseriusan mereka,” katanya.
Menurut Andrianus, kehadiran KTS diharapkan menjawab persoalan ketenagakerjaan sekaligus mendorong pembangunan ekonomi di desa. “Kalau komitmen ini dijaga, masyarakat akan merasakan manfaat besar,” tambahnya.
Pertemuan terbuka itu menjadi titik balik: warga tidak hanya mendengar janji, tetapi juga melihat kesediaan perusahaan membuka diri, transparan, dan siap bertanggung jawab penuh selama melangsungkan aktivitas pertambangan, maupun pasca tambang.
(Nengo)






