Berita Terbaru

KTS Luncurkan Program Si-Peka, Dorong Peternakan Kambing Berkelanjutan di Halsel

Warga Desa Fluk mengelola ternak kambing dalam program Si-Peka binaan PT KTS

Perwakilan PT KTS saat menjalankan program Sistem Integrasi Peternakan Kambing (Si-Peka) di Desa Fluk, Halmahera Selatan.

Halsel – HaluanMalut – PT Karya Tambang Sentosa (KTS) yang beroperasi di Obi, Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Provinsi Maluku Utara, kembali menegaskan komitmennya pada program Corporate Social Responsibility (CSR) berkelanjutan, Selasa (30/9/2025).

Tidak sekadar memberi bantuan sesaat, perusahaan meluncurkan Sistem Integrasi Peternakan Kambing (Si-Peka) di Desa Fluk. Program ini dirancang untuk menjawab persoalan klasik pengelolaan ternak warga yang selama ini dibiarkan berkeliaran dan kurang terawat.

“Si-Peka bukan hanya soal ternak kambing. Ini tentang membangun tata kelola peternakan berbasis kelompok, menguatkan kapasitas masyarakat, serta menciptakan ekosistem yang sehat dan produktif,” ujar Ahmad Chandra Laksmana, perwakilan manajemen KTS.

Dalam program ini, KTS menggandeng Balai Penyuluh Pertanian (BPP) melalui Irwandi La Iria untuk mendampingi warga dalam monitoring kesehatan, nutrisi, hingga manajemen reproduksi ternak. Dengan model ini, kambing dipelihara secara komunal, terukur, dan diarahkan untuk berkembang sebagai aset ekonomi keluarga.

Masyarakat menyambut program ini dengan antusias. Ketua kelompok ternak, Arifin, menilai Si-Peka sebagai langkah nyata yang memberikan manfaat langsung bagi warga.

“Dulu kambing sering merusak tanaman di pekarangan. Sekarang, kami bisa mengelolanya lebih baik, dan ternak juga mulai berkembang biak,” ungkapnya.

Saat ini, tercatat 23 ekor kambing dalam pengelolaan kelompok, beberapa di antaranya sudah melahirkan anakan.

Bagi KTS, Si-Peka merupakan investasi sosial jangka panjang: menumbuhkan kemandirian ekonomi desa, mengurangi konflik akibat ternak lepas, sekaligus membuka peluang agribisnis berbasis komunitas. Dengan pendekatan integrasi, program ini diproyeksikan menjadi model pemberdayaan desa binaan yang berkelanjutan.

(Nengo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *