Berita Terbaru

Ahliwaris Tutut Hak Atas Kerusakan Lahan Kepala SPV Harita Diduga Teriakan Tembak

Oplus_16908288

Halsel – haluanmalut.com. Ketegangan terjadi di lokasi pembangunan bendungan PT Harita di kali Ake lamo Desa Kawasi, Kecamatan Obi Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Provinsi Maluku Uatara. setelah seorang oknum keamanan perusahaan, Okta, yang menjabat sebagai SPV Security, diduga mengeluarkan teriakan bernada ancaman kepada warga ahli waris pemilik lahan yang memprotes kerusakan tanah akibat aktivitas proyek. (23/11/2025)

Insiden berawal ketika warga melakukan pemalangan lahan sebagai bentuk protes. Dalam situasi tegang tersebut, Okta diduga memerintahkan anggota keamanan di bawahnya danton dan danyon untuk “menembak” ahli waris satu persatu yang menolak aktivitas proyek di lahan mereka, hal ini dibuktikan dengan Vidio Ahliwaris.

Oknum SPV Security Harita, Okta, warga ahli waris pemilik lahan, serta Barisan Rakyat Halmahera Selatan (Barah) sebagai pihak yang mengawal persoalan lahan meminta petinggi Harita agar segera evaluasi oknum tersebut apabila perintah tersebut benar tembak, jika dibiarkan ini menjadi ancaman bagi masyarakat terkhusus pemilik lahan.

Peristiwa terjadi pada saat warga melakukan aksi pemalangan di area proyek bendungan, dan terpantau oleh masyarakat serta anggota Barah yang berada di lokasi pada Sabtu (22/11) pada pukul 11.45 WIT

Lokasi insiden berada di area proyek pembangunan bendungan PT Harita di kilo 4  sungai Ake Lamo Desa Kawasi

Warga melakukan aksi protes karena menilai aktivitas proyek telah menyebabkan kerusakan lahan tanpa penyelesaian yang jelas. Dugaan ancaman muncul di tengah ketegangan antara warga (Ahliwaris) dan keamanan perusahaan.

Saat warga memblokade akses jalan pengecoran jembatan di lahan ahliwaris Okta diduga teriak memerintahkan Danton dan Danyon  menembak warga ahli waris satu persatu yang berada di lokasi. Dugaan teriakan tersebut langsung menimbulkan kemarahan Ahliwaris

Ketua Barah menyatakan tindakan oknum keamanan itu sebagai bentuk intimidasi dan pelanggaran etika, serta meminta perusahaan segera mengevaluasi Okta.

Ahli waris Ibu Junet membenarkan bahwa perintah bernada kekerasan itu terdengar jelas oleh dirinya dan ahliwaris lain nya.

” Iya benar teriakan tembak kami satu persatu  oleh kepala SPV Pak Okta yang memerintahkan danton dan danyon, kami bisa membuktikan dengan Vidio yang sempat di vidio. ” Ujarnya

Barah menilai tindakan tersebut berpotensi menciptakan konflik berkepanjangan dan mengikis kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan.

Pihak Barah mendesak perusahaan memperbaiki komunikasi dengan warga serta melakukan evaluasi internal agar tidak ada lagi oknum keamanan yang bertindak di luar prosedur dan merugikan nama perusahaan.

Warga berharap pemerintah daerah dan pihak terkait turun tangan menyelesaikan konflik lahan secara damai tanpa adanya tekanan maupun ancaman dari siapa pun.

Hingga berita ini diterbitkan, PT Harita belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai desakan evaluasi terhadap Okta sebagai SPV Security.

(Ay/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *