Pasca Banjir, BPBD Halsel Mulai Lakukan Pendataan Kerusakan di 5 Desa
Kepala BPBD Halsel, Aswin Adam. (Foto: dok. Istimewa)
Halsel – HaluanMalut.com — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Provinsi Maluku Utara (Malut), segera melakukan pendataan kerusakan pasca bencana banjir yang merendam 5 Desa di pusat Ibu Kota Kabupaten pada Senin (14/7/2025).
Pendataan ini merupakan langkah awal dalam skema pengajuan ganti rugi yang akan diajukan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pusat. Tim teknis BPBD Halsel akan diturunkan untuk mencatat secara detail jumlah dan jenis fasilitas yang rusak akibat banjir.
Kepala BPBD Halsel, Aswin Adam, menjelaskan saat diwawancarai pada Jumat (11/7), bahwa pendataan ini menjadi dasar untuk penyusunan proposal bantuan ke pemerintah pusat.
“Dalam waktu satu minggu kami akan memerintahkan tim teknis untuk melakukan pendataan barang-barang yang rusak agar kami bisa usulkan dalam bentuk proposal ke BNPB pusat. Mudah-mudahan bisa segera dikabulkan,” ujar Aswin di hadapan wartawan.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan ganti rugi terhadap masyarakat, mantan Kepala Dinas BPKD ini menegaskan bahwa pihaknya hanya memiliki kewenangan untuk mengusulkan, bukan memutuskan.
“Saya belum bisa pastikan, intinya torang hanya mengusulkan. Mudah-mudahan ada tanggapan dari BNPB pusat karena mereka juga sudah ikut meninjau langsung lokasi banjir,” imbuhnya.
Terkait jenis barang yang akan masuk dalam kategori ganti rugi, Aswin menyebut bahwa hal itu akan diputuskan setelah hasil pendataan masuk dan dibahas dalam rapat internal.
“Untuk barang apa saja yang akan diganti, nanti kami lihat dulu hasil pendataan, lalu kami putuskan lewat rapat,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Komisi III DPRD Halsel, Safri Talib, dalam rapat bersama BPBD mengungkapkan bahwa selain curah hujan tinggi, proyek breakwater di muara Sungai Inggoi juga turut berkontribusi terhadap terjadinya banjir.
“Penyebab banjir ini bukan hanya cuaca ekstrem dan curah hujan tinggi, tapi juga proyek breakwater yang menghambat aliran air ke muara sungai,” tegas Safri.
Sebagai informasi tambahan, bencana banjir yang melanda lima desa di Pulau Bacan terjadi pada Minggu (21/6) akibat hujan lebat yang menyebabkan meluapnya Sungai Inggoi dan Kali Amasing. Pemerintah setempat kemudian mengevakuasi warga dan memanfaatkan fasilitas perkantoran serta masjid sebagai tempat pengungsian sementara.
(Nengo)






